Detik waktu ini yang terus berjalan tanpa ku ketahui usia ini yang semakin berkurang, dimana aku hidup mungkin takkan lama lagi, namun ada hal yang paling aku khawatirkan dari pada tentang kehidupanku saat ini, yaitu ibu ku,,, saat ini bisa saja aku mengeluh ataupun bekerja lebih karena Allah masih memberikanku kekuatan muda ku yang masih bisa ku gunakan untuk menempuh hidup ini, tapi tidak bagi ibu, usianya semakin senja tak sanggup rassanya melihatnya masih saja terus bekerja meskipun hanya untuk bekal dirinya, tapi rasanya hati ini tak kuasa.
Ya Allah terkadang aku bingung kepada siapa aku bercerita selain kepadaMu, ibu saat ini sering sakit sakitan, sering mengeluh karena rasa sakit yang beliau rasakan, sementara aku bingung apa yang harus ku lakukan, seandainya itu adalah beban yang bisa aku bawakan maka akan aku bantu membawakan, tapi saat ini rasa sakit itu tak bisa aku rasakan hanya ibu, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Doaku kan selalu ada untukmu duhai ibu..
Ya Allah dalam doaku aku mohon kepada Mu, jangan biarkan kau angkat ibuku sebelum aku bisa membahagiakannya, mempersembahkan anak anak sholeh untuknya.
Ya Allah ijinkan ibu merasakan kebahagiaan dengan anak perempuannya meskipun bukan dari rahim yang iya besarkan, tapi beliau merasakan kebahagiaan istri dari ku kelak yang ikut bercerita dengannya, ikut bercanda dengannya, karena kau yakin ibu memerlukan teman perempuan sebagai teman ceritanya.
Jangan saat saat ini, dimana aku masih belum bisa menemukan sesosok bidadari yang menyenangkan dan menenangkan hatiku dan hati kedua orang tuaku,,
Allah.... semoga engkau mendengarkan rintihan ini..
Senin, 29 Juni 2015
Sabtu, 21 Maret 2015
Kebesaran Nya
Salam Sahabat
Alhamdulillah dengan segala puji Allah masih memberikan kta nafas yang panjang sehingga saya masih memiliki kesempatan untuk bersilaturahim bersama sahabat.
Sahabat sebuah pelajaran yang aku dapatkan hari ini dari kehidupanku yang sedang kujalani.
Jika kita lihat Gunung yang besar itusangatlah terlihat jelas dan seakan akan gunung itu memang dekat. Ketika dilihat dari sudut kiri, kanan, tengah, memang gunung itu seakan dekat. Dan alasan terlihat dekat itu karena besar dan tingginnya Gunung itu.
Namun terkadang saya kaitkan dengan kehidupan dan keadaan hati ini. Terhentaklah sebuah pertanyaan bahwa ad yanglebih besar dari gunung, ada yang lebih tinggi dari gunung, dan bahkan tak ada makhluk satu pun di dunia dan di langit yang bisa menandinginya. Dan jawabannya benar sekali. Dia adalah Allah... Tuhan kita.. Allahu Akbar Allah Maha Besar... Dimana tidak ada yang sederajat dengan Nya. Tak ada makhluk yang tidak mengakui kebesaran Nya. Dan semua makhluk yang besar, tinggi, luas bahkan sekuat apapun makhluk di dunia ini semua tunduk kepada Nya. Allah... Allah... Allahu Akbar.
Tapi sahabat, terkadang kita tahu dan mengakui kebesaran Allah, mengakui keagungan Allah. tapi sudhkah kita merasakan bahwa Allah itu dekat. Dekat dengan hati ini karena kebesaran Nya.
Kebesaran Alllah yang tidak ada tandingannya harusnya terasa dekat dengan hati ini. Tapi bagaimana kenyataanya??? Allah menciptakan akal ini untuk berfikir dan ku akui atas kebesaran Allah dari segala ciptaan Nya yang ada di langit dan di bumi.
Sahabat, kebesaran Nya bukan terlihat dari mata kita, kebesaran Nya bukan terdengar dari telinga kita, dan kebesaran Nya bukan tidak tergenggamnya oleh tangan kita. Tapi kebesaranNya melebihi dari semua panca indra yang di anugrahkan Nya, dan yang paling terasa kebesaran Nya dari hati ini, keyakinan ini, iman ini yang mengahambakan kepadaNya. Dimana hati ini terasa dekat dengan Nya karena mengingat, mengimani, dan tiada Tuhan selain Dia. Laa ilaaha illallah....
semoga ini bisa menjadi pelajaran yang berarti untuk kita.
Salam.
Alhamdulillah dengan segala puji Allah masih memberikan kta nafas yang panjang sehingga saya masih memiliki kesempatan untuk bersilaturahim bersama sahabat.
Sahabat sebuah pelajaran yang aku dapatkan hari ini dari kehidupanku yang sedang kujalani.
Jika kita lihat Gunung yang besar itusangatlah terlihat jelas dan seakan akan gunung itu memang dekat. Ketika dilihat dari sudut kiri, kanan, tengah, memang gunung itu seakan dekat. Dan alasan terlihat dekat itu karena besar dan tingginnya Gunung itu.
Namun terkadang saya kaitkan dengan kehidupan dan keadaan hati ini. Terhentaklah sebuah pertanyaan bahwa ad yanglebih besar dari gunung, ada yang lebih tinggi dari gunung, dan bahkan tak ada makhluk satu pun di dunia dan di langit yang bisa menandinginya. Dan jawabannya benar sekali. Dia adalah Allah... Tuhan kita.. Allahu Akbar Allah Maha Besar... Dimana tidak ada yang sederajat dengan Nya. Tak ada makhluk yang tidak mengakui kebesaran Nya. Dan semua makhluk yang besar, tinggi, luas bahkan sekuat apapun makhluk di dunia ini semua tunduk kepada Nya. Allah... Allah... Allahu Akbar.
Tapi sahabat, terkadang kita tahu dan mengakui kebesaran Allah, mengakui keagungan Allah. tapi sudhkah kita merasakan bahwa Allah itu dekat. Dekat dengan hati ini karena kebesaran Nya.
Kebesaran Alllah yang tidak ada tandingannya harusnya terasa dekat dengan hati ini. Tapi bagaimana kenyataanya??? Allah menciptakan akal ini untuk berfikir dan ku akui atas kebesaran Allah dari segala ciptaan Nya yang ada di langit dan di bumi.
Sahabat, kebesaran Nya bukan terlihat dari mata kita, kebesaran Nya bukan terdengar dari telinga kita, dan kebesaran Nya bukan tidak tergenggamnya oleh tangan kita. Tapi kebesaranNya melebihi dari semua panca indra yang di anugrahkan Nya, dan yang paling terasa kebesaran Nya dari hati ini, keyakinan ini, iman ini yang mengahambakan kepadaNya. Dimana hati ini terasa dekat dengan Nya karena mengingat, mengimani, dan tiada Tuhan selain Dia. Laa ilaaha illallah....
semoga ini bisa menjadi pelajaran yang berarti untuk kita.
Salam.
Rabu, 11 Maret 2015
Kisah Sebuah Pensil
Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu
bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita?
Apakah cerita ini tentang aku?”
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”
Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.
“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”
Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.
Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.
Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.
iphinchow.com
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”
Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.
“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”
Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.
Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.
Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.
iphinchow.com
Selasa, 10 Maret 2015
DUA
Saat dunia ini mendung tapi terasa terang, saat terasa pahit tapi semua seakan manis, saat mata tak mau terpejam dan dunia terasa hangat dan indah saat seseorang telah dinantikan kehadirannya ke dunia. Maka Allah menciptakan manusia ke dunia tentu dengan membawa sebuah rislah. Dimana bila disingkat itu adalah DUA "Dakwah Ukhuwah dan Amanah".
Kata yang pertama yaitu D "Dakwah", begitulah Allah memerintahkan hambaNya terlahir ke dunia melainkan untuk menyebarkan Dakwah kebaikan kepada semua makhluk Nya. Kemudian yanag kedua adalah U "Ukhuwah" tidak kalah penting yang harus dilaksanakan seorang hamba Allah untuk menjalin ukhuwah islamiyah yang baik, harmonis dengan alam disekitar kita terutama dengan keluarga kita sendiri kemudian dengan sahabat, guru, pelatih bahkan teman serta kakak dan adik kita sendiri. Ukhuwah dengan kata lain adalah persahabatan. Sebagai makhluk Allah yang diciptakan sebagai makhluk sosial maka tentu harus bisa melakukan ukhuwah yang Allah ridhoi, InsyaAllah karena Allah pun akan melihat dan terus memperhatikan kita.
Kemudian A "Amanah", sebuah sifat yang Allah anugerahkan kepada kita dan merupakan warisan dari Rasullullah yang hendaknya kita contoh. Amanah merupakan sebuah kepercayaan yang sangat signifikan, dimana amanah ini bisa saja menjadi baik atau pun buruk. Yang apabila kita lebih kenal dengan tanggungjawab, yang memang tanggung jawab ini meskipun terfikirkan mdah namun pada hakikatnya tidak semudah itu karena sebuah amanah atau tanggung jawab itu tidak terputus di dunia saja melainkan harus di pertanggungjawabkan diakhirat nanti.
wallahualam...
bersambung....
Senin, 09 Maret 2015
Semakin Senja
Semakin hari semakin senja
Pagi yang baru saja telah berlalu
Kini sudah senja lagi tanpa ku sadari
Aku yang terlalu sibuk di pagi hari
semakin renta usia ini
Sementara tak ada yang aku banggakan
Taka ada yang bisa aku andalkan
Hanya ampunan Mu ya Allah
Langganan:
Postingan (Atom)